...................................................................................................................................................................

Sabtu, 26 Februari 2011

Jasa


“Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan ketimbang ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri” (Ibnul Qayyim).

Merasa diri paling berjasa dalam suatu kebaikan kadangkala hinggap di hati manusia. Tak jarang, orang-orang yang hatinya telah dihinggapi perasaan tersebut merasa tak puas sebelum berusaha agar orang banyak mengetahuinya. Kepuasan akan dirasakan bila telah menyebut-nyebut jasa dirinya. Disadari atau tidak, inilah perilaku yang sifatnya amat merusak amalan. Sebab, suatu perbuatan yang seharusnya menyisakan pahala, berubah menjadi menyisakan dosa, karena telah bersifat ria.

Yang lebih menguatirkan lagi, menyebut-nyebut jasa diri sendiri melekat pada diri seseorang, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit terhapus sepanjang hayat. Bila ini yang terjadi, suka atau tidak suka, rusaklah amalan hingga kematian datang.

Padahal sebenarnya, jauh sebelum berjasa terhadap orang lain, kita telah banyak menikmati sekian banyak jasa orang lain. Bahkan, banyak di antara jasa tersebut yang tak pernah disebut-sebutkan oleh orang lain. Misalnya, jasa ibu yang jarang disebut-sebutkan. Kebanyakan ibu malah merasa amat puas bila anak(-anak)nya mampu memberi jasa yang baik terhadap kebaikan dan perbaikan orang banyak. Bukan hanya itu, ibu juga sangat berharap agar apa yang telah diperbuat anak-anaknya menjadi amalan yang akan setia menemani anak-anaknya ke akhirat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar