...................................................................................................................................................................

Jumat, 21 Januari 2011

Pengakuan

Kadang aku pernah menganggap bahwa tuhan memang gemar menebar benih persoalan-persoalan yang mengepung hidupku. Terkadang aku merasa kesal, kenapa tuhan yang menabur angin sementara aku yang menuai badai? Jika tuhan yang menyulut api, mengapa justru aku yang disuruh memadamkannya? Namun disaat lain aku juga berpikir akulah sendiri yang sebenarnya gemar menyulut api. Sementara tuhan bahkan selalu menyertaiku dalam meneliti seluruh proses kehidupanku. Dia senantiasa membantuku untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang meniti hidupku.
Asta’firullahaadzim..

Tuhan, aku tulis diary ini untuk-Mu                                                         
Dalam pengakuanku , hari-hariku telah kupenuhi dengan kesalahan demi kesalahan, kekhilafan demi kekhilafan, kenistaan demi kenisataan. Akan tetapi, aku selalu berharap biji kesalahanku tidak engkau takar dengan kepastian hukum-Mu. Bukanakah lembah pengampunan-Mu jauh lebih luas dan melampaui seluruh kesalahan yang pernah aku kakukan?
Aku memohon Tuhanku, Segala kekhilafan demi kekhilafan yang terlanjur aku lakukan Engkau sambut di pintu gerbang permaafan-Mu. Aku benar-benar memohon agar engkau senantiasa memberikan pintu itu bagiku. Karena tanpa ampunan dan maqfirah-Mu, tanpa Izin-Mu, betapa onak berduri akan slalu indah tuk dilalui walaupun berakhir dengan kepedihan akhirnya
Juga tentang kenistaan itu, kenistaan adalah tetap kenistaan. Betapa berat meghapus jejak-jejak tapaknya. Tapi biarkan orang –orang menghukumku tanpa melupakan ujud kenistaan itu. Meskipun demikian aku masih memiliki seutas harapan bahwa Engku tak pernah enggan untuk menghapuskannya. Pasalnya jika bukan kepa-Mu, lantas kemana lagi aku akan menambatkan harapan?
Tuhan, jika dosa-dosa yang aku lakukan terlanjur melekat dalam qalbuku, jangan pernah Engkau menahulukan siksa amarah kepadaku. Engkaulah pembimbing setiap jiwa yang berdosa agar senantiasa menghampiri jalan pertobatan yang Engkau tunjuki. Tanpa bimbingan dan hidayah-Mu, betapa kegelapan akan semakin bertumpuk dengan dosa-dosa kegelapan yang baru
Tuhan biarkan aku menengadah mengharap belas kasih-Mu, menangis dengan ketulusan dan jiwa yang hampa tanpa kasih-Mu,  ini yang  slalu ku dengungkan dalam kesunyian yang jauh ntah dimana, dipunca ubun-ubun yang tak bergeming meletup-letup penuh sesal, penuh rindu, penuh haru, isak, tangis, yang tak mampu aku gambarkan disini dan di lemperan kertas rindu ini

Tuhan,bila smua akan berakhir nanti, biarkan aku menjadi seorang yang memegang bendera kemenangan ntah akan terjadi tapi harapku penuh pada-Mu; Tuhan.

kutipan: Diary untuk tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar